Connect with us

Risma, Sang Fenomena

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di tengah-tengah pelajar

Di dunia sepak bola, ada sosok il phenomenon alias sang fenomena, yakni Ronaldo Luis Nazario de Lima. Pemain sepak bola asal Brasil itu memang memiliki keahlian mengolah bola di atas rata-rata. Semasa berkarier, baik untuk klub maupun negaranya, Ronaldo adalah striker tajam yang sangat ditakuti lawan-lawannya.

Prestasinya pun seabrek dan kerap nangkring di puncak daftar pencetak gol terbanyak di setiap turnamen atau liga yang ia ikuti. Sempat beberapa kali mengalami cedera parah yang nyaris mengakhiri kariernya, Ronaldo mampu bangkit dan kembali mengguncang jagat sepak bola dengan menjuarai Piala Dunia. Atas capaian itulah ia dijuluki Sang Fenomena.

Nah, di Indonesia, ada juga sosok yang patut menyandang julukan tersebut. Sang fenomenal yang dimaksud adalah Tri Rismaharini. Seperti diketahui bersama, dalam berbagai tulisan dan kegiatan, nama Wali Kota Surabaya ini kerap ditambah embel-embel fenomenal, lebih tepatnya tokoh perempuan fenomenal. Apa sebabnya?

Dulu, namanya mungkin masih terasa asing di telinga sebagian besar masyarakat. Namun perlahan tapi pasti, dedikasi dan sumbangsihnya mampu membawa perubahan besar di Surabaya. Bahkan ibu kota Jawa Timur itu kian terkenal hingga mancanegara. Kini, potensi Surabaya sudah disegani bagi banyak investor internasional.

Mundur ke belakang sejenak, sisi fenomena Risma sebenarnya mulai terpancar saat dirinya menjadi perempuan pertama yang terpilih jadi Wali Kota Surabaya sepanjang sejarah. Bahkan setelah mengisi jabatan pada periode 2010-2015, Risma kembali terpilih pada pemilihan kepala daerah serentak untuk periode 2016–2021.

Tak dipungkiri lagi, dalam genggamannya, Surabaya memang bersolek diri. Semasa menjabat, Risma seperti memiliki kekuatan “magis” yang mampu mengubah Surabaya menjadi kian memesona. Perubahan itu pun sebenarnya sudah dimulai sebelum menjadi wali kota. Tepatnya saat dirinya menduduki posisi sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya dan Kepala Badan Perencanaan Kota Surabaya (Bappeko) hingga 2010. Di bawah kepemimpinannya, ia menerapkan strategi utama pada perencanaan pembangunan kota yang bersih dan asri.

Mimpi besar ini jelas patut diapresiasi. Meski tak memiliki keindahan alam atau sumber daya alam seperti kota lainnya, Risma tetap mengejar cita-cita membangun Surabaya sejajar dengan kota di negara-negara maju di dunia. “Surabaya harus merdeka dari sampah,” ujar pemegang Sarjana Arsitektur dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (1987) dan Master Manajemen Pembangunan Kota Surabaya, ITS (2002) ini.

Dalam pengejarannya, ibu dua anak ini pun pun rela turun langsung ke lapangan. Ia berperan dalam pembangunan pedestrian bagi pejalan kaki dengan konsep modern di sepanjang Jalan Basuki Rahmat yang kemudian dilanjutkan hingga Jalan Tunjungan, Blauran, dan Panglima Sudirman. Tak hanya itu, dirinya juga yang memimpin pemugaran beberapa taman di Surabaya.

Sebut saja seperti Taman Bungkul di Jalan Raya Darmo dengan konsep all-in-one entertainment park, Taman Persahabatan, Taman Skate dan BMX, Taman Flora, Taman Undaan, Taman Bundaran Dolog, Taman Bawean, serta beberapa tempat lainnya. Taman-taman dan jalur pedestrian itu menjadi tempat yang nyaman bagi warga untuk melepas kepenatan.

Khusus Taman Bungkul yang berada di tengah kota bahkan terbilang paling mendapat perhatian. Sebab dulunya area tersebut tidak layak disebut taman. Namun kini, Taman Bungkul diakui dunia dan menjadi taman terbesar se-Asia Tenggara. Sah-sah saja rasanya jika menyebut Risma adalah wali kota yang “gila taman”. Sejumlah taman memang telah dibangun guna menyegarkan pemandangan sekaligus menambah ruang terbuka hijau. Bahkan bukan sekadar itu saja. Di Taman Bulak dan Taman Ronggolawe, Pemkot Surabaya memasang fasilitas WiFi. Tujuannya, mengajak warga agar betah beraktivitas di taman sembari berselancar di dunia maya.

Ada juga taman yang dilengkapi perpustakaan. Tak hanya bersantai, warga juga didorong untuk mau membaca dan menambah pengetahuan. Risma menargetkan, nantinya setiap kelurahan di Kota Surabaya punya taman. Target satu kelurahan, satu taman ini sejalan dengan rencana Pemkot Surabaya untuk menambah luas ruang terbuka hijaunya secara bertahap.

Saat ini, Ruang terbuka hijau atau RTH di Kota Surabaya mencapai 20,70%. Risma menargetkan RTH di kota ini kelak mencapai 35%. “Saat ini, kami juga sedang membangun taman kota seluas 60 hektare. Baru lima hektar yang selesai dibangun. Konsepnya adalah taman berbunga dan berbuah,” ujarnya.

Bukan hanya hanya taman. RTH di Surabaya juga diperluas dengan mengembangkan hutan kota. Hutan kota Balasklumprik dan Pakal menjadi contoh nyata upaya Pemkot Surabaya mengembangkan paru-paru udara bagi kota terbesar kedua di Indonesia ini. “Seluruh buah di Indonesia ada di hutan Pakal ini,” ujarnya bangga.

Segudang Penghargaan

Selain dinilai berhasil menata Surabaya menjadi kota yang bersih dan penuh taman hijau, wanita kelahiran Kediri ini juga sukses memberi Surabaya meraih kembali Piala Adipura. Tak cuma itu, penghargaan yang didapat Kota Pahlawan ini juga sukses meraihnya tiga tahun berturut-turut, yakni 2011, 2012, dan 2013 untuk kategori Kota Metropolitan. Capaian itu pun menjadi semakin sempurna saat Surabaya sudah lima tahun tak lagi memperolehnya.

Belum cukup sampai di situ, dalam tiga tahun kepemimpinannya, Surabaya juga meraih predikat menjadi kota yang terbaik partisipasinya se-Asia Pasifik 2012 versi Citynet. Predikat itu pun tak terlepas dari kedekatan Risma dengan rakyat sehingga ia bersama punggawa Pemerintah Kota bisa mendorong rakyat antusias berpartisipasi dalam mengelola lingkungan.

Dalam menjaga kedekatannya itu, Risma menerapkan gaya pemimpin masa kini, yakni blusukan. Dirinya mengaku sangat tidak betah bila hanya duduk di kursi ruang kerjanya. Ia juga punya rasa peduli terhadap rakyat kecil. Benaknya selalu memikirkan solusi pemecahan masalah kemiskinan yang menghimpit kaum marginal. “Mereka yang selalu aku pikirin,” katanya berulang kali.

Risma berpandangan pembangunan kualitas warga tidak kalah penting dengan pembangunan infrastruktur kota. Pembangunan kualitas warga membuat pembangunan kota lebih cepat tercapai dan dapat dinikmati. “Untuk apa pemerintah kota membangun infrastruktur kalau yang menikmati bukan warganya. Warga asli kota harus menikmati, menjadi tuan dan nyonya di kotanya sendiri,” ujarnya.

Berkat itu, pada Oktober 2013, Surabaya memperoleh penghargaan tingkat Asia-Pasifik, yaitu Future Government Awards 2013 untuk dua bidang sekaligus. Adapun dua bidang itu adalah data center dan inklusi digital. Hebatnya lagi, Surabaya menyisihkan 800 kota di seluruh Asia-Pasifik.

Walhasil, keberhasilannya itu semakin mengangkat namanya. Wanita kelahiran 20 November 1961 ini juga masuk dalam daftar nominasi wali kota terbaik di dunia, 2012 World Mayor Prize, yang digelar oleh The City Mayors Foundation. Ia menjadi kandidat wali kota terbaik asal Indonesia bersama dua orang lainnya, yakni Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan, dan Joko Widodo (Jokowi) saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.

Dua tahun kemudian, atas capaian prestasinya selama menjabat sebagai Wali Kota Surabaya, wanita yang terkenal tegas dan tak kenal kompromi ini lalu resmi terpilih sebagai Wali Kota Terbaik Dunia 2014. Jelaslah sekarang mengapa Risma dianggap sebagai kepala daerah perempuan pertama di Indonesia yang berulang kali masuk dalam daftar pemimpin terbaik dunia.

Malah beberapa waklu lalu, ia juga sukses membawa pulang Ideal Mother Award dari Universitas Kairo di Mesir.  Penghargaan tersebut diberikan oleh Universitas Kairo yang bekerja sama dengan Rashid Al Maktoum Foundation.

Risma pun juga dikenal sebagai wali kota yang sukses memangkas anggaran birokrasi berbelit. Dia memberikan tunjangan kesehatan bagi warga yang kurang mampu serta menambah anggaran pendidikan sebesar 35% dari APBD. Ide-ide kreatifnya itu membuat pertumbuhan ekonomi Surabaya meningkat lebih dari 7,5% sejak ia pimpin. Akhirnya, ia diganjar penghargaan bergengsi, Women Leader Award 2012 dari Globe Asia.

Rajin Turun Langsung

Risma memang wali kota bersahaja. Ia tak segan berbecek-becekan bersama rakyat ketika banjir menggenangi Surabaya. Pernah suatu hari ia kedapatan mengatur kemacetan lalu lintas. Pernah juga hujan-hujanan bersama anak buahnya membersihkan got dari ranting-ranting yang patah diterjang angin dan hujan.

Tatkala terjadi kerusuhan pertandingan sepak bola di Stadion Gelora 10 Nopember, Risma juga tak segan-segan menghadapi para Bonek dan juga pengurusnya. Seorang supoter tewas dalam peristiwa tersebut. “Cukup sudah Rek, ini yang terakhir. Sampai kapan lagi harus seperti ini. Lihat keluarganya, kasihan. Ini korban anak tunggal,” ujar Risma kepada para Bonekmania dari Asosiasi Suporter Persebaya.

Jangan juga lupakan saat Ibu yang hobi naik gunung ini pernah mendatangi tersangka pemerkosa di kantor Mapolresta. Ia mendatangi dan memberi nasehat para tersangka yang masih anak-anak itu. Risma juga pernah menemui dan melabrak tersangka penjual gadis anak baru gede.

Ya, sikap tak kenal kompromi dalam menjalankan tugasnya inilah yang jua membuatnya kerap “dimusuhi” lawan-lawannya. Tak sedikit yang berusaha melengserkannya. Sikapnya kerap mengundang pro-kontra. Apalagi karakternya juga dikenal berani, misalnya saat mendorong penutupan lokalisasi prostitusi yang menjadi ikon Surabaya, yakni kompleks Gang Dolly dan Jarak. Saat itu, dirinya siap mati demi ditutupnya area lokalisasi tersebut.

Namun toh Risma menutup Gang Dolly dengan solusi. Para Pekerja Seks Komersial (PSK) dididik dinas sosial kotamadya. Ada juga PSK yang dipulangkan ke daerah asalnya. Saat memulangkan para PSK itu Risma berujar, “Jangan pernah berpikir, saya bukan bagian dari sampeyan (kalian), tapi berpikirlah bahwa sampeyan-sampeyan itu juga bagian dari saya, sehingga bisa berbuat baik seperti yang orang lain lakukan.” Kini, Gang Dolly menjadi pusat industri kecil berkat sang fenomena, Tri Rismaharini.

W. Novianto

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Tinggalkan Microsoft Demi Membangun Kampung Halaman

Oleh

Fakta News
Choirul Amri Tinggalkan Microsoft demi bangun Desa Kuniran di Ngawi
Choirul Amri(Foto: Dok. Pribadi)

Sebenarnya, mimpi Muhammad Choirul Amri sudah tercapai ketika bekerja di Microsoft pada 2013 lalu. Tapi ia malah memutuskan keluar dari perusahaan itu untuk membangun kampung halamannya, Desa Kuniran, Ngawi, Jawa Timur.

Ya, hal ini spontan saja mengundang tanya dari banyak orang? Apa yang dipikirkan dia? Apalagi Microsoft adalah perusahaan global ternama.

Mengapa dirinya lebih memilih berjuang membuat kampungnya itu menjadi desa wisata?

Choirul tak sedang bercanda. Saking seriusnya, ia berencana untuk mengintegrasikan Embung Kuniran, Cagar Budaya Lumbung Padi, sanggar karawitan setempat, dan peternakan kambing.

Baca Juga:

Area-area tersebut dapat menjadi tujuan wisatawan lokal dan mancanegara untuk merasakan kehidupan asli desa Indonesia atau hanya sekadar berswafoto.

Kata dia, persoalan di kampungnya itu sebenarnya sederhana. Ia pun mengaku menemukan hal itu saat dirinya membantu budidaya lele.

Menurutnya, warga desa memiliki kemampuan untuk mengembangkan desa. Tetapi mereka tidak memiliki pendamping dan pengawas yang dapat memberikan masukan atas apa yang harus dilakukan.

Hingga akhirnya pada Oktober 2017, ia bersama warga membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis). Kelompok itu berkomitmen untuk memperbaharui tampilan Desa Kuniran.

Nah, salah satunya dengan membuat menara untuk swafoto di Embung Kuniran, salah satu aset utama desa tersebut.

Choirul Amri kaget. Warga ternyata antusias dan mampu mengumpulkan dana sendiri. Mereka juga membangun menara itu dengan keterampilan sendiri.

Choirul pun akhirnya resmi mendirikan Rumah Inspirasi Nusantara pada Januari 2018. Rumah tersebut merupakan wadah kegiatan pemberdayaan masyarakat dan desa yang dilakukan di Ngawi.

Baca Selengkapnya

BERITA

Penggerak Literasi dengan Aplikasi dan Taman Baca di Malang

Oleh

Fakta News
Santoso Mahargono dan GO READ
Santoso Mahargono(Foto: Istimewa)

Foto itu mungkin terpasang di salah satu dinding rumahnya. Foto saat dirinya diundang Presiden Joko Widodo untuk makan siang di Istana Negara. Momen itu pun jadi yang tak terlupakan bagi Santoso Mahargono, si pelopor GO READ.

Ya, kegigihannya dalam menggerakkan literasi membuahkan hasil. Pendiri sekaligus Ketua Forum Komunikasi Taman Baca Masyarakat Malang Raya ini mendapat apresiasi tinggi dari Presiden Jokowi.

Bahkan Santoso berkesempatan mengikuti sidang tahunan MPR dan DPR serta upacara bendera 17 Agustus di Istana Negara.

Baca Juga:

Adapun soal undangan makan di Istana ia dapatkan setelah mengikuti pemilihan pustakawan berprestasi tingkat nasional. Saat itu, juara 1, 2 dan 3 diundang Presiden untuk makan siang bersama teladan-teladan lainnya, termasuk Paskibra dan Paduan Suara Gita Bahana.

Dalam gelatan yang digelar pada 9-19 Agustus di Jakarta, Santoso Mahargono mendapatkan juara II mewakili Provinsi Jawa Timur. Programnya membawanya terpilih mewakili Provinsi dengan menyisihkan 18 peserta lainnya.

Adapun program yang ia gagas adalah GO READ, layanan penyedia buku bagi masyarakat, utamanya yang berada di daerah pelosok Malang Raya. Kegigihannya di bidang literasi dihargai tinggi.

Sebelumnya, Santoso sendiri sudah mendapatkan penghargaan hingga diundang Mantan Gubernur Soekarwo yang dulu masih menjabat di Jatim.

Baca Selengkapnya

BERITA

Pembalap Jogja Hasil Didikan Valentino Rossi

Oleh

Fakta News
Galang Hendra Pratama Hasil didikan Rossi
Galang Hendra Pratama

Pecinta balap motor boleh saja mengidolakan pembalap internasional macam Valentino Rossi. Namun Indonesia sebenarnya juga punya pembalap yang diidolakan. Dia adalah Galang Hendra Pratama.

Pebalap muda asal Yogyakarta ini digadang-gadang bisa mengharumkan Indonesia. Jalannya disebut-sebut tengah menuju ke sana.

Tanda-tandanya pun perlahan terlihat. Galang menjadi pebalap pertama Indonesia yang juara dalam salah satu seri Kejuaraan Dunia Supersport 300 (300-600 cc).

Tepatnya di Kejuaraan Balap Motor Dunia Superbike, yakni di Sirkuit Jerez, Spanyol, tahun lalu. Ia juga menang di Sirkuit Automotodrom Brno, Ceko, Juni tahun ini.

Baca Juga:

Apresiasi pun berdatangan. Termasuk Muhammad Abidin, General Manager Divisi Pascapenjualan dan Departemen Motorsport PT Yamaha Indonesia Motor MFG yang merupakan tim pendukung Galang di Superbike.

”Ini hasil luar biasa karena Galang bersaing dengan pebalap-pebalap terbaik dari negara yang memiliki sejarah balap motor yang kuat, seperti dari Eropa dan Amerika Serikat (AS),” katanya.

Perlu diketahui, Galang adalah pebalap Indonesia yang paling dekat dengan kejuaraan balap motor paling bergengsi di dunia, MotoGP.

Pasalnya, kini ia sedang berkiprah di Kejuaraan Dunia Supersport 300, kelas terendah dari empat kelas yang dipertandingkan Superbike.

Tiga kelas di atasnya ialah Kejuaraan Dunia Superbike, Supersport, dan Piala PIM Superstock 1000.

Kejuaraan Superbike tersebut memiliki popularitas yang hanya kalah dari MotoGP. Umumnya, pebalap yang sukses di Superbike akan beralih ke MotoGP.

Sebut saja seperti Colin Edwards (Amerika Serikat) dan Nicky Hayden (Amerika Serikat). Nah, Galang punya prestasi cukup gemilang di Superbike.

Baca Selengkapnya